Konten ini hanya untuk dewasa(17+) untuk anak-anak kunjungi saja indracerita.blogspot.com
Selasa, 19 Februari 2013
Senin, 11 Februari 2013
Senin, 28 Januari 2013
Aduh Ayah
Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.
Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?
Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.." kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.
Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. "Ah.." kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.
"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Ton, ayo masukin saja."
"Sebentar lagi Nitt."
"Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. "Blesss.." batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.
Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.." Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.
"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.
Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada."
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.
"Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih," dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.
"Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja."
Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.
Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.
"Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali," pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.
"Nita!"
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.
"Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.
"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu."
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama," aku menangis memohon.
Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?
Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.." kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.
Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. "Ah.." kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.
"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Ton, ayo masukin saja."
"Sebentar lagi Nitt."
"Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. "Blesss.." batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.
Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.." Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.
"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.
Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada."
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.
"Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih," dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.
"Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja."
Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.
Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.
"Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali," pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.
"Nita!"
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.
"Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.
"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu."
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama," aku menangis memohon.
Petualangan Mengejar Mimpi
Aku adalah seorang pria berusia 17 tahun. Aku bersekolah di sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di kotaku. Aku tidak terlalu tinggi, tapi tidak juga terlalu pendek, kulitku kuning kecoklatan dan rambutku sedikit cepak di bagian belakang dan samping. Saat ini aku sudah mempunyai pacar, lumayan cantik, kulitnya putih, rambutnya sebahu, namanya Vania. Dia keturunan Chinese dan ada sedikit petualanganku dengannya. Tapi itu cerita lain, saat ini aku akan bercerita sedikit tentang pengalamanku, kusebut saja, "Petualangan Mengejar Mimpi".
Sore-sore sekali aku baru bangun dari tidur siangku. Maklum, kemarin malam aku begadang dan baru tidur sekitar jam 3 subuh, itupun hanya 2 atau 3 jam saja, karena paginya aku harus mengantar ibuku untuk menjemput saudaraku dari Tasikmalaya. Aku sedikit malas, tapi aku memaksakan diri untuk pergi ke stasiun. Saudaraku itu mungkin setingkat dengan bibiku, tapi dia masih sangat muda, hanya terpaut sekitar 3 atau 4 tahun denganku. Sebut saja namanya Sri.
Dia pernah tinggal di rumahku sekitar 1 tahun untuk mengambil program Diploma 1, dan aku sering juga tergiur oleh tubuhnya yang sintal dan padat. Itu tidak aneh, karena dia memang menekuni olahraga, khususnya basket. Dia sedikit lebih tinggi dari aku, dan parasnya cukup menawan. Sri sepertinya sudah lama tahu kalau aku mengincarnya, tapi selama ini belum pernah dia memberikan respon baik positif maupun negatif. Setengah tahun yang lalu dia pulang ke kotanya untuk menjenguk orangtuanya, dan sekarang dia kembali ke kotaku untuk mencari pekerjaan.
Oke, kita kembali ke jalan cerita. Malam harinya aku berniat untuk langsung tidur karena masih sedikit ngantuk. Tapi aku sempat mengintip sedikit ke kamar Sri, dan kulihat dia sedang membereskan pakaiannya. Dari jumlah pakaiannya, aku tahu dia akan lama diam di rumahku. Aku senang juga, siapa tahu saja ada kesempatan untuk mengintipnya mandi, atau bahkan sedikit menyentuhnya. Sekitar pukul 20:00 aku sudah terlelap dan aku sudah tidak ingat lagi apayang terjadi di sekitarku, yang aku tahu hanya nikmatnya bantal dan guling di ranjangku.
Aku bangun sekitar pukul 04:00 pagi, aku sudah kebelet ingin buang air kecil. Segera aku berjalan menuju kamar mandi, dan aku sangat terkejut. Kulihat pintu kamar mandi sedikit terbuka, rupanya tidak ditutup atau mungkin lupa ditutup. Kutengok ke dalam dan kulihat Sri ada di dalam. Aku benar-benar terangsang melihat pemandangan indah yang ada di depanku. Entahdia sedang terangsang atau apa, yang jelas kulihat Sri yang masih memakai pakaian tidur tipisnya, dia meremas-remas dadanya di bawah guyuran shower yang membuat tubuhnya yang basah tercetak jelas di balik baju tidurnya. Ternyata Sri tidak mengenakan bra.
Aku tidak tahan lagi, entah kenapa aku jadi sangat berani, aku masuk ke dalam karena pintunya tidak dikunci. Sri kaget setengah mati, dan segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Aku pura-pura tenang, dan segera menghadap kloset, dan kubuka celanaku. Kukeluarkan batang kemaluanku dari celana dalamku, dan aku segera kencing di depan Sri.
Sri sendiri sepertinya kagum juga melihat batang kemaluanku yang hampir mencapai ukuran maksimal. Dia memperhatikan sambil sedikit malu-malu. Ketika kulihat wajahnya, Sri memalingkan wajah dan hendak keluar dari kamar mandi. Kontan saja aku meloncat, dengan batang kemaluan yang masih mengeluarkan air kencing, kupeluk Sri dari belakang.
Sri pasrah, sepertinya dia juga tidak menolak ajakanku. Aku mengunci pintu sambil terus memeluknya, dan setelah pintu kukunci, kubuka pakaianku, juga celana dalamku yang basah karena terkencingi. Sri sendiri tidak melawan, dia membiarkan kedua tanganku meremas dadanya yang kencang dan berisi dengan liar.
Aku sedikit bosan dengan permainan itu, karena itu segera tanganku menjalar menuju bawah, ke bagian pahanya, dan kemudian hinggap tepat di sela-sela kakinya. Tangan kiriku yang masih meremas dada Sri segera bergerak cekatan, menyingkapkan pakaian tidurnya yang basah. Tangan kananku belum banyak bekerja, hanya bergerak turun naik mengelus-elus pahanya.
Sri masih terdiam memejamkan mata ketika kulepaskan pakaian tidurnya. Dia kini hanya memakai celana dalam, itupun tidak bisa dibilang menutupi tubuhnya karena celana dalam itu sangat tipis dan basah, sehingga terlihat bulu-bulu halus di sekitar sela-sela pahanya yang putih mulus. Kuremas sekali lagi dadanya yang kiri dan kanan bergantian.
Sri tiba-tiba melonjak kaget ketika jari tangan kananku menyentuh bagian luar liang kemaluannya yang basah berlendir. Aku memeluknya lebih erat, Sri sedikit berontak, tapi itu tidak menyulitkanku. Kugerakkan perlahan jari tengahku menyusup di balik celana dalamnya. Kugerakkan naik turun menggosok permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.
Sekitar 5 menit kemudian, kuhentikan permainanku. Sri membalikkan badannya, dadanya naik turun dan nafasnya tidak beraturan. Terlihat sekali kalau dia sangat menikmati permainaku. Kucium belahan dadanya, lalu kujilat puting susunya, kumainkan lidahku di sana dan kurasakan nafas Sri semakin memburu tepat di atas ubun-ubunku. Kujilat puting susu kanannya, sedangkan tangan kiriku meremas dada kirinya. Aku menyukai kedua susunya yang mantap itu, dan sekali-sekali kuhisap putingnya dan Sri selalu mendesah panjang ketika itu kulakukan.
Tangan kananku bergerak ke bawah, mencoba membuka celana dalam Sri dari sela-sela kakinya. Kali ini Sri tidak melawan, dia membuka sedikit kakinya dan itu membuatku mudah mendorong celana dalamnya hingga lututnya yang kemudian melorot hingga lepas. Kembali tangan kananku menuju selangkangan kakinya, dan dengan jari tengahku kuusap lembut permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.
Jari telunjuk dan jari manisku kugunakan untuk membuka liang kemaluannya lebih lebar, sedangkan jari tengahku menggosok-gosok bagian tengahnya yang hangat dan berlendir perlahan. Sri mengerang perlahan sambil berusaha mengatur nafasnya yang semakin memburu. Itu tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian tubuh Sri menggelinjang hebat seperti kehilangan keseimbangan. Kulemaskan liang kemaluan dan dadanya, dan kupeluk dia mencegah dia jatuh. Sri merapatkan tubuhnya dan memelukku dengan erat sambil bergoncang-goncang. Nafasnya memburukeras, kemudian kembali melemah setelah beberapa saat. Aku tahu Sri sudah mencapai puncak, dan ini harus kumanfaatkan.
Setelah Sri bisa berdiri dengan tegap lagi, kembali tangan kananku menuju selangkangannya. Kali ini jari tengahku tidak hanya menggosok-gosok liang kemaluannya, tapi mulai menekan masuk ke dalam. Liang kemaluannya sudah sangat basah, dan terasa lendirnya membasahi jariku. Kurapatkan keempat jariku, dan dengan posisi menggenggam, kutekan liang kemaluannya dari bawah sedangkan ibu jariku menekan dari atas. Lendir segera mengalir ke telapak tanganku, setelah kurasa cukup, kugunakan lendir itu untuk melumuri batang kemaluanku yang sudah sangat tegang. Lendirnya cukupbanyak sehingga batang kemaluanku sudah seluruhnya basah dan licin. Kukocok beberapa kali untukmemastikan lendirnya merata, lalu kembali mengelus liang kemaluan Sri.
Sore-sore sekali aku baru bangun dari tidur siangku. Maklum, kemarin malam aku begadang dan baru tidur sekitar jam 3 subuh, itupun hanya 2 atau 3 jam saja, karena paginya aku harus mengantar ibuku untuk menjemput saudaraku dari Tasikmalaya. Aku sedikit malas, tapi aku memaksakan diri untuk pergi ke stasiun. Saudaraku itu mungkin setingkat dengan bibiku, tapi dia masih sangat muda, hanya terpaut sekitar 3 atau 4 tahun denganku. Sebut saja namanya Sri.
Dia pernah tinggal di rumahku sekitar 1 tahun untuk mengambil program Diploma 1, dan aku sering juga tergiur oleh tubuhnya yang sintal dan padat. Itu tidak aneh, karena dia memang menekuni olahraga, khususnya basket. Dia sedikit lebih tinggi dari aku, dan parasnya cukup menawan. Sri sepertinya sudah lama tahu kalau aku mengincarnya, tapi selama ini belum pernah dia memberikan respon baik positif maupun negatif. Setengah tahun yang lalu dia pulang ke kotanya untuk menjenguk orangtuanya, dan sekarang dia kembali ke kotaku untuk mencari pekerjaan.
Oke, kita kembali ke jalan cerita. Malam harinya aku berniat untuk langsung tidur karena masih sedikit ngantuk. Tapi aku sempat mengintip sedikit ke kamar Sri, dan kulihat dia sedang membereskan pakaiannya. Dari jumlah pakaiannya, aku tahu dia akan lama diam di rumahku. Aku senang juga, siapa tahu saja ada kesempatan untuk mengintipnya mandi, atau bahkan sedikit menyentuhnya. Sekitar pukul 20:00 aku sudah terlelap dan aku sudah tidak ingat lagi apayang terjadi di sekitarku, yang aku tahu hanya nikmatnya bantal dan guling di ranjangku.
Aku bangun sekitar pukul 04:00 pagi, aku sudah kebelet ingin buang air kecil. Segera aku berjalan menuju kamar mandi, dan aku sangat terkejut. Kulihat pintu kamar mandi sedikit terbuka, rupanya tidak ditutup atau mungkin lupa ditutup. Kutengok ke dalam dan kulihat Sri ada di dalam. Aku benar-benar terangsang melihat pemandangan indah yang ada di depanku. Entahdia sedang terangsang atau apa, yang jelas kulihat Sri yang masih memakai pakaian tidur tipisnya, dia meremas-remas dadanya di bawah guyuran shower yang membuat tubuhnya yang basah tercetak jelas di balik baju tidurnya. Ternyata Sri tidak mengenakan bra.
Aku tidak tahan lagi, entah kenapa aku jadi sangat berani, aku masuk ke dalam karena pintunya tidak dikunci. Sri kaget setengah mati, dan segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Aku pura-pura tenang, dan segera menghadap kloset, dan kubuka celanaku. Kukeluarkan batang kemaluanku dari celana dalamku, dan aku segera kencing di depan Sri.
Sri sendiri sepertinya kagum juga melihat batang kemaluanku yang hampir mencapai ukuran maksimal. Dia memperhatikan sambil sedikit malu-malu. Ketika kulihat wajahnya, Sri memalingkan wajah dan hendak keluar dari kamar mandi. Kontan saja aku meloncat, dengan batang kemaluan yang masih mengeluarkan air kencing, kupeluk Sri dari belakang.
Sri pasrah, sepertinya dia juga tidak menolak ajakanku. Aku mengunci pintu sambil terus memeluknya, dan setelah pintu kukunci, kubuka pakaianku, juga celana dalamku yang basah karena terkencingi. Sri sendiri tidak melawan, dia membiarkan kedua tanganku meremas dadanya yang kencang dan berisi dengan liar.
Aku sedikit bosan dengan permainan itu, karena itu segera tanganku menjalar menuju bawah, ke bagian pahanya, dan kemudian hinggap tepat di sela-sela kakinya. Tangan kiriku yang masih meremas dada Sri segera bergerak cekatan, menyingkapkan pakaian tidurnya yang basah. Tangan kananku belum banyak bekerja, hanya bergerak turun naik mengelus-elus pahanya.
Sri masih terdiam memejamkan mata ketika kulepaskan pakaian tidurnya. Dia kini hanya memakai celana dalam, itupun tidak bisa dibilang menutupi tubuhnya karena celana dalam itu sangat tipis dan basah, sehingga terlihat bulu-bulu halus di sekitar sela-sela pahanya yang putih mulus. Kuremas sekali lagi dadanya yang kiri dan kanan bergantian.
Sri tiba-tiba melonjak kaget ketika jari tangan kananku menyentuh bagian luar liang kemaluannya yang basah berlendir. Aku memeluknya lebih erat, Sri sedikit berontak, tapi itu tidak menyulitkanku. Kugerakkan perlahan jari tengahku menyusup di balik celana dalamnya. Kugerakkan naik turun menggosok permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.
Sekitar 5 menit kemudian, kuhentikan permainanku. Sri membalikkan badannya, dadanya naik turun dan nafasnya tidak beraturan. Terlihat sekali kalau dia sangat menikmati permainaku. Kucium belahan dadanya, lalu kujilat puting susunya, kumainkan lidahku di sana dan kurasakan nafas Sri semakin memburu tepat di atas ubun-ubunku. Kujilat puting susu kanannya, sedangkan tangan kiriku meremas dada kirinya. Aku menyukai kedua susunya yang mantap itu, dan sekali-sekali kuhisap putingnya dan Sri selalu mendesah panjang ketika itu kulakukan.
Tangan kananku bergerak ke bawah, mencoba membuka celana dalam Sri dari sela-sela kakinya. Kali ini Sri tidak melawan, dia membuka sedikit kakinya dan itu membuatku mudah mendorong celana dalamnya hingga lututnya yang kemudian melorot hingga lepas. Kembali tangan kananku menuju selangkangan kakinya, dan dengan jari tengahku kuusap lembut permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.
Jari telunjuk dan jari manisku kugunakan untuk membuka liang kemaluannya lebih lebar, sedangkan jari tengahku menggosok-gosok bagian tengahnya yang hangat dan berlendir perlahan. Sri mengerang perlahan sambil berusaha mengatur nafasnya yang semakin memburu. Itu tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian tubuh Sri menggelinjang hebat seperti kehilangan keseimbangan. Kulemaskan liang kemaluan dan dadanya, dan kupeluk dia mencegah dia jatuh. Sri merapatkan tubuhnya dan memelukku dengan erat sambil bergoncang-goncang. Nafasnya memburukeras, kemudian kembali melemah setelah beberapa saat. Aku tahu Sri sudah mencapai puncak, dan ini harus kumanfaatkan.
Setelah Sri bisa berdiri dengan tegap lagi, kembali tangan kananku menuju selangkangannya. Kali ini jari tengahku tidak hanya menggosok-gosok liang kemaluannya, tapi mulai menekan masuk ke dalam. Liang kemaluannya sudah sangat basah, dan terasa lendirnya membasahi jariku. Kurapatkan keempat jariku, dan dengan posisi menggenggam, kutekan liang kemaluannya dari bawah sedangkan ibu jariku menekan dari atas. Lendir segera mengalir ke telapak tanganku, setelah kurasa cukup, kugunakan lendir itu untuk melumuri batang kemaluanku yang sudah sangat tegang. Lendirnya cukupbanyak sehingga batang kemaluanku sudah seluruhnya basah dan licin. Kukocok beberapa kali untukmemastikan lendirnya merata, lalu kembali mengelus liang kemaluan Sri.
Senin Sore Di Kampung
Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, aku tinggal di Bandung. Aku berasal dari Sukabumi, ayahku berasal dari Bandung, sedangkan ibuku asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita ini menceritakan kisahku yang terjadi saat aku kelas 1 SMA di Sukabumi yang terus berlanjut sampai aku kuliah sekarang.
Aku anak yang paling tua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik laki-laki. Umurku berbeda 2 tahun dengan adik. Kami sangat dimanja oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.
Waktu kecil, aku sering mandi bersama bersama adikku, tetapi sejak dia masuk SD, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, aku masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis seorang cowok. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat lagi penis cowok. Sampai suatu ketika, pada hari senin sore, aku sedang asyik telpon dengan teman cewekku. Aku telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya aku rasakan kandung kemihku penuh sekali. Aku kebelet pipis. Benar-benar kebelet pipis, sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Aku berlari menuju ke kamar mandi terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.
"Hey..! Siapa di dalam..? Buka dong..! Udah nggak tahan..!" aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu.
"Akuu..! Tunggu sebentar..!" ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.
"Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!" kataku memaksa.
Gila, aku benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.
"Kreekk..!" terbuka sedikit pintu kamar mandi, kepala adikku muncul dari celahnya.
"Ada apa sih..?" katanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung nyerobot ke dalam karena sudah tidak tahan. Langsung aku jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.
"Serrrr..." keluar air seni dari vaginaku.
Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang bulat.
"Wooiiyyy..! Sopan dikit napa..?" teriaknya sambil melotot tetap berdiri di depanku.
"Sebentarrr..! Udah nggak kuat nih," kataku.
Sebenarnya aku tidak mau menurunkan pandangan mataku ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga. Kelihatan deh burungnya.
"Hihihihi..! Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikitlah..." gumanku dalam hati.
Aku takut tertangkap basah melihat penisnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mataku melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat ke mataku lagi. Sialan..! Dia lihat vaginaku yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vaginaku biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.
"Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..!" aku bersungut dalam hati.
"Oooo..! Kayak gitu ya Teh..?" katanya sambil tetap melihat ke vaginaku.
"Eh kurang ajar Lu ya..!" langsung saja aku berdiri mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.
"Bletak..!" kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.
"Ya... basah deh rok Teteh..." kataku melihat ke rok dan celana dalamku.
"Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!" katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.
"Mandi lagi ahh..!" lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.
Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.
"Waduh.., sialan nih adik..!" sungutku dalam hati.
Waktu itu aku bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi aku jijik pake rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, baru kukembalikan handuknya.
"Udah.., pake aja handuk Aku..!" kata adikku.
Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan penisnya mengkerut lagi.
"Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!" batinku.
Aku lalu membuka celana dalamku yang warnanya merah muda, lalu rokku. Kelihatan lagi deh vaginaku. Aku takut adikku melihatku dalam keadan seperti itu. Jadi kulihat adikku. Eh sialan, dia memang memperhatikan aku yang tanpa celana.
"Teh..! Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? Hehehe..!" katanya sambil nyengir.
Sialan, dia menghina vaginaku, "Iya..!" kataku sewot. "Daripada culun kayak punya Kamu..!" kataku sambil memukul bahu adikku.
Eh tiba-tiba dia berkelit, "Eitt..!" katanya.
Karena aku memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya aku terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.
"Iiihhh.., rasanya geli banget..!" cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, "Huh..! Elo sih..!"
"Teh.. kata Teteh tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?" katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.
Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.
"Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?" kataku mengejek dia.
Padahal aku kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng aku tanya, "Gedein lagi bisa nggak..?" kataku sambil mencibir.
"Bisa..! Tapi Teteh harus bantu dikit dong..!" katanya lagi.
"Megangin ya..? Wekss.., ya nggak mau lah..!" cibirku.
"Bukan..! Teteh taruh ludah aja di atas tititku..!" jawabnya.
Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.
"Gitu doang kan..? Mau Teteh ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Teteh pengen ngeludahin Kamu""Asyiiikkk..!" katanya.
Sialan nih adikku, aku dikerjain. Kudekatkan kepalaku ke arah penisnya, lalu aku mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga aku membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin besar, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. Asyiik banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Aku benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul. Seperti penyanyi utama yang baru muncul di atas panggung setelah ditunggu oleh fans-nya.
Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Aku jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.
"Hehe..." dia ke arahku. "Masih culun nggak..?" katanya lagi. "Hehe..! Macho kan..!" katanya tetap tersenyum.
Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun aku terangsang, tentu saja aku tepis tangan itu.
"Apaan sih Elo..!" kubuang tangannya ke kanan.
"Teh..! Please Tehhh.. Pegang aja Teh... Nggak akan diapa-apain... Aku pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja Teh.." kata adikku, kembali tangannya mendekati selangkanganku.
Waduuhh.. sebenarnya aku mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi aku juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh cowok di vagina.
"Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!" akhirnya aku mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.
Aku anak yang paling tua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik laki-laki. Umurku berbeda 2 tahun dengan adik. Kami sangat dimanja oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.
Waktu kecil, aku sering mandi bersama bersama adikku, tetapi sejak dia masuk SD, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, aku masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis seorang cowok. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat lagi penis cowok. Sampai suatu ketika, pada hari senin sore, aku sedang asyik telpon dengan teman cewekku. Aku telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya aku rasakan kandung kemihku penuh sekali. Aku kebelet pipis. Benar-benar kebelet pipis, sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Aku berlari menuju ke kamar mandi terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.
"Hey..! Siapa di dalam..? Buka dong..! Udah nggak tahan..!" aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu.
"Akuu..! Tunggu sebentar..!" ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.
"Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!" kataku memaksa.
Gila, aku benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.
"Kreekk..!" terbuka sedikit pintu kamar mandi, kepala adikku muncul dari celahnya.
"Ada apa sih..?" katanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung nyerobot ke dalam karena sudah tidak tahan. Langsung aku jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.
"Serrrr..." keluar air seni dari vaginaku.
Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang bulat.
"Wooiiyyy..! Sopan dikit napa..?" teriaknya sambil melotot tetap berdiri di depanku.
"Sebentarrr..! Udah nggak kuat nih," kataku.
Sebenarnya aku tidak mau menurunkan pandangan mataku ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga. Kelihatan deh burungnya.
"Hihihihi..! Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikitlah..." gumanku dalam hati.
Aku takut tertangkap basah melihat penisnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mataku melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat ke mataku lagi. Sialan..! Dia lihat vaginaku yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vaginaku biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.
"Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..!" aku bersungut dalam hati.
"Oooo..! Kayak gitu ya Teh..?" katanya sambil tetap melihat ke vaginaku.
"Eh kurang ajar Lu ya..!" langsung saja aku berdiri mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.
"Bletak..!" kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.
"Ya... basah deh rok Teteh..." kataku melihat ke rok dan celana dalamku.
"Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!" katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.
"Mandi lagi ahh..!" lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.
Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.
"Waduh.., sialan nih adik..!" sungutku dalam hati.
Waktu itu aku bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi aku jijik pake rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, baru kukembalikan handuknya.
"Udah.., pake aja handuk Aku..!" kata adikku.
Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan penisnya mengkerut lagi.
"Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!" batinku.
Aku lalu membuka celana dalamku yang warnanya merah muda, lalu rokku. Kelihatan lagi deh vaginaku. Aku takut adikku melihatku dalam keadan seperti itu. Jadi kulihat adikku. Eh sialan, dia memang memperhatikan aku yang tanpa celana.
"Teh..! Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? Hehehe..!" katanya sambil nyengir.
Sialan, dia menghina vaginaku, "Iya..!" kataku sewot. "Daripada culun kayak punya Kamu..!" kataku sambil memukul bahu adikku.
Eh tiba-tiba dia berkelit, "Eitt..!" katanya.
Karena aku memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya aku terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.
"Iiihhh.., rasanya geli banget..!" cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, "Huh..! Elo sih..!"
"Teh.. kata Teteh tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?" katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.
Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.
"Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?" kataku mengejek dia.
Padahal aku kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng aku tanya, "Gedein lagi bisa nggak..?" kataku sambil mencibir.
"Bisa..! Tapi Teteh harus bantu dikit dong..!" katanya lagi.
"Megangin ya..? Wekss.., ya nggak mau lah..!" cibirku.
"Bukan..! Teteh taruh ludah aja di atas tititku..!" jawabnya.
Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.
"Gitu doang kan..? Mau Teteh ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Teteh pengen ngeludahin Kamu""Asyiiikkk..!" katanya.
Sialan nih adikku, aku dikerjain. Kudekatkan kepalaku ke arah penisnya, lalu aku mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga aku membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin besar, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. Asyiik banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Aku benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul. Seperti penyanyi utama yang baru muncul di atas panggung setelah ditunggu oleh fans-nya.
Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Aku jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.
"Hehe..." dia ke arahku. "Masih culun nggak..?" katanya lagi. "Hehe..! Macho kan..!" katanya tetap tersenyum.
Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun aku terangsang, tentu saja aku tepis tangan itu.
"Apaan sih Elo..!" kubuang tangannya ke kanan.
"Teh..! Please Tehhh.. Pegang aja Teh... Nggak akan diapa-apain... Aku pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja Teh.." kata adikku, kembali tangannya mendekati selangkanganku.
Waduuhh.. sebenarnya aku mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi aku juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh cowok di vagina.
"Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!" akhirnya aku mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.
Pelajaran Bercinta
Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.
Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.
"Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?" katanya.
Aku langsung saja to the point, "Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?" kataku.
"Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?" sambungnya sambil menyubit pipiku.
"Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon."
"Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!" katanya agak jengkel.
"Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?" kataku pelan.
"Idihhh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son."
"Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini." kataku agak mengancam.
"Apaaa..! Aduhhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku." katanya agak memohon.
"Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony." kataku senang.
"Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?" katanya penasaran.
"Gini Tante, anuuu.., anuuu.., Sony.., pengen... anuuu..."
"Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!" katanya tambah penasaran.
"Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?"
Aduh tante melotot lagi sambil berkata, "Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja."
Terus kurayu lagi, "Yaaaa... Tante.. ya.. please..!"
"Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil." katanya agak kesal.
"Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!"
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.
Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, "Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?" katanya dengan genit.
"Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!" kataku agak mengancam.
"Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?" tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.
Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.
"Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?" katanya.
Aku langsung saja to the point, "Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?" kataku.
"Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?" sambungnya sambil menyubit pipiku.
"Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon."
"Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!" katanya agak jengkel.
"Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?" kataku pelan.
"Idihhh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son."
"Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini." kataku agak mengancam.
"Apaaa..! Aduhhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku." katanya agak memohon.
"Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony." kataku senang.
"Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?" katanya penasaran.
"Gini Tante, anuuu.., anuuu.., Sony.., pengen... anuuu..."
"Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!" katanya tambah penasaran.
"Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?"
Aduh tante melotot lagi sambil berkata, "Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja."
Terus kurayu lagi, "Yaaaa... Tante.. ya.. please..!"
"Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil." katanya agak kesal.
"Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!"
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.
Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, "Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?" katanya dengan genit.
"Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!" kataku agak mengancam.
"Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?" tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.
Pengalaman Menyedihkan
Kejadian yang paling mengerikan, kisah ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Kurang lebih dua tahun yang lalu, saat masih duduk di semester kedua, di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, saya dikenalkan dengan seorang gadis yang sebut saja namanya Alia oleh sahabat saya Rika (bukan nama sebenarnya). Alia seorang gadis yang tinggi dan langsing.
Saat pertama berkenalan, saya memperkirakan tinggi badannya diatas 175 cm. Wajahnya mulus, menarik dengan matanya yang tajam dan bening serta bibirnya yang berwarna merah lembut, selalu tampak tersenyum. Tubuhnya cukup ideal menurut pendapat saya, dan saya sungguh terkesan dengan kecantikannya. Gaya bicaranya sopan, ramah, serta menyenangkan. Kalau sedang tertawa, Alia nampak cantik sekali (paling tidak menurut saya).
Alia berasal dari universitas yang berbeda dengan saya dan Rika. Namun begitu, kami menjadi teman dekat, bersama dengan seorang teman lainnya yang berasal dari smu yang sama dengan saya, yaitu Yuni (juga bukan nama sebenarnya). Kami berempat menjadi akrab. Ada baiknya saya juga menceritakan tentang Rika dan Yuni. Rika berparas cantik dan bersifat periang. Tidak terlalu tinggi, tapi paling tidak lebih tinggi dari saya, karena tinggi saya hanya 152 cm. Tubuhnya bagus dan menawan. Saya cukup iri dibuatnya. Sedangkan Yuni, walaupun tidak terlalu cantik, tapi dia baik hati serta berpendirian keras.
Alia sering berkata kepadaku, "Re, kamu mungil banget deh..! Bikin gue gemes..!"
Kalau sudah begitu, saya hanya tertawa.
Namun pernah suatu kali saya dibuat terkejut, karena dia pernah menggandeng lengan saya sambil berkata, "Re, kamu cakep deh... imut. Gue suka."
Waktu itu saya hanya tertegun saja menatap dia. Lebih lucunya, dia mencubit pipi saya dan kemudian mengelus rambut saya. Terus terang, saya mengagumi kecantikan Alia. Saat itu saya punya cowok. Tapi cowok saya itu orangnya kaku dan pendiam. Hubungan kami hanya begitu-begitu saja. Saya tidak tahu kenapa, tapi saat itu saya pun mulai menyukai Alia (saya biseks).
Suatu hari, kami menginap di rumah Alia. Kejadian mengerikan itu diawali dari sini. Kami berempat tidur di kamar Alia. Oh ya, Alia mengaku orang tuanya berada di luar negri, sehingga dia hanya tinggal sendirian. Malam harinya, saya merasa begitu mengantuk sehingga pulas. Yang mengejutkan, saya terbangun dengan tangan terikat ke belakang di sebuah gudang. Saya melihat Yuni dan Rika pun terikat tangannya. Saya heran dan sedikit takut. Tidak lama kemudian, Alia masuk diiringi oleh seorang cowok tinggi jangkung berkulit cukup gelap. Wajahnya kokoh dan nampak keras. Cukup tampan. Dia lebih tinggi dari Alia. Saya melihat Alia tersenyum aneh, membuat saya menggigil kecut.
Rika bertanya pada Alia, "Lia, apa-apaan sih kamu..? Jangan macem-macem ah..!"
Tetapi nampaknya Alia tidak mempedulikan pertanyaan kami, bahkan kemudian Alia berkata kepada cowok tersebut, "Di, kamu bisa mulai. Terserah kamu deh..!"
Saya kaget sekali mendengar perkataan Alia. Cowok tersebut (Dodi? Ardi? atau sebut saja Didi!) mengeluarkan pisau dari sakunya dan kemudian mulai beraksi. Dia merobek baju kami bertiga sehingga kami hanya tinggal mengenakan pakaian dalam. Kami tidak berani berontak karena takut dengan pisau yang dipegangnya. Kemudian Alia pun menanggalkan bajunya, sehingga dia pun hanya mengenakan pakaian dalam saja. Didi kemudian menanggalkan pula bajunya, sehingga dia hanya mengenakan celana dalamnya.
Saya bisa melihat kemaluan Didi menegang dibalik celana dalamnya. Selanjutnya, dia menyelipkan pisaunya di antara kedua susu saya dan kemudian merobek BH saya dengan pisau tersebut.
Dia sempat berkata kepada Alia, "Hmm... boleh juga temanmu ini Lia..!"
Kalian bisa bayangkan bagaimana takutnya saya saat itu. Untungnya, dia beralih kepada Rika dan Yuni, melakukan hal yang sama dengan merobek BH mereka, sehingga kedua susu mereka terbuka menggantung. Saat ini Yuni sedang berteriak menyumpahi Alia. Sementara saya lihat Rika diam saja dan nampak ketakutan, sama seperti saya.
Alia kemudian mengambil sebuah alat suntik dari saku bajunya yang telah berada di lantai dan saya dapat melihat alat suntik tersebut berisi cairan bening.
Sementara Didi asyik menciumi dan meraba-raba tubuh Rika yang telanjang dada, Alia datang menghampiri saya dan kemudian berkata lembut kepada saya, "Re, gue suntik ya..? Enak koq..!"
Walaupun saya merasa takut, tetapi mendengar suara Alia, hati terasa nyaman. Apakah saya memang menyukainya?
Alia kemudian menyuntik susu kiri saya dan saya dapat merasakan aliran cairan bening dari alat suntik tersebut memasuki jaringan pada susu kiri saya. Saya mengerang menahan rasa aneh yang muncul pada susu kiri saya tersebut. Dan kemudian Alia juga menyuntik susu kanan saya. Setelah itu, Alia memeluk saya dan mencium pipi saya. Dalam hati saya, saat itu terasa nyaman dan senang, sesaat menggantikan rasa takut saya. Alia selanjutnya juga menyuntik kedua susu milik Rika dan Yuni. Hanya saja, Alia tidak mencium mereka.
Setelah menyuntik kami, Alia membuka celana dalamnya sehingga tubuh Alia terlihat polos, telanjang bulat. Benar-benar cantik Alia saat itu. Sepasang susunya menggantung indah. Kemaluannya ditumbuhi rambut halus. Tubuhnya benar-benar proporsional. Didi juga menyusul membuka celana dalamnya, menampakkan kemaluannya yang sudah tegang. Saya takut juga melihatnya, karena baru kali itu saya melihat cowok telanjang secara langsung. Anehnya, tidak lama setelah itu saya merasakan kedua susu saya menjadi penuh, lebih berat, dan lubang susunya mengeluarkan cairan. Hal yang sama juga nampaknya dialami oleh Rika dan Yuni. Mungkin pengaruh dari obat yang disuntikkan oleh Alia.
Saat pertama berkenalan, saya memperkirakan tinggi badannya diatas 175 cm. Wajahnya mulus, menarik dengan matanya yang tajam dan bening serta bibirnya yang berwarna merah lembut, selalu tampak tersenyum. Tubuhnya cukup ideal menurut pendapat saya, dan saya sungguh terkesan dengan kecantikannya. Gaya bicaranya sopan, ramah, serta menyenangkan. Kalau sedang tertawa, Alia nampak cantik sekali (paling tidak menurut saya).
Alia berasal dari universitas yang berbeda dengan saya dan Rika. Namun begitu, kami menjadi teman dekat, bersama dengan seorang teman lainnya yang berasal dari smu yang sama dengan saya, yaitu Yuni (juga bukan nama sebenarnya). Kami berempat menjadi akrab. Ada baiknya saya juga menceritakan tentang Rika dan Yuni. Rika berparas cantik dan bersifat periang. Tidak terlalu tinggi, tapi paling tidak lebih tinggi dari saya, karena tinggi saya hanya 152 cm. Tubuhnya bagus dan menawan. Saya cukup iri dibuatnya. Sedangkan Yuni, walaupun tidak terlalu cantik, tapi dia baik hati serta berpendirian keras.
Alia sering berkata kepadaku, "Re, kamu mungil banget deh..! Bikin gue gemes..!"
Kalau sudah begitu, saya hanya tertawa.
Namun pernah suatu kali saya dibuat terkejut, karena dia pernah menggandeng lengan saya sambil berkata, "Re, kamu cakep deh... imut. Gue suka."
Waktu itu saya hanya tertegun saja menatap dia. Lebih lucunya, dia mencubit pipi saya dan kemudian mengelus rambut saya. Terus terang, saya mengagumi kecantikan Alia. Saat itu saya punya cowok. Tapi cowok saya itu orangnya kaku dan pendiam. Hubungan kami hanya begitu-begitu saja. Saya tidak tahu kenapa, tapi saat itu saya pun mulai menyukai Alia (saya biseks).
Suatu hari, kami menginap di rumah Alia. Kejadian mengerikan itu diawali dari sini. Kami berempat tidur di kamar Alia. Oh ya, Alia mengaku orang tuanya berada di luar negri, sehingga dia hanya tinggal sendirian. Malam harinya, saya merasa begitu mengantuk sehingga pulas. Yang mengejutkan, saya terbangun dengan tangan terikat ke belakang di sebuah gudang. Saya melihat Yuni dan Rika pun terikat tangannya. Saya heran dan sedikit takut. Tidak lama kemudian, Alia masuk diiringi oleh seorang cowok tinggi jangkung berkulit cukup gelap. Wajahnya kokoh dan nampak keras. Cukup tampan. Dia lebih tinggi dari Alia. Saya melihat Alia tersenyum aneh, membuat saya menggigil kecut.
Rika bertanya pada Alia, "Lia, apa-apaan sih kamu..? Jangan macem-macem ah..!"
Tetapi nampaknya Alia tidak mempedulikan pertanyaan kami, bahkan kemudian Alia berkata kepada cowok tersebut, "Di, kamu bisa mulai. Terserah kamu deh..!"
Saya kaget sekali mendengar perkataan Alia. Cowok tersebut (Dodi? Ardi? atau sebut saja Didi!) mengeluarkan pisau dari sakunya dan kemudian mulai beraksi. Dia merobek baju kami bertiga sehingga kami hanya tinggal mengenakan pakaian dalam. Kami tidak berani berontak karena takut dengan pisau yang dipegangnya. Kemudian Alia pun menanggalkan bajunya, sehingga dia pun hanya mengenakan pakaian dalam saja. Didi kemudian menanggalkan pula bajunya, sehingga dia hanya mengenakan celana dalamnya.
Saya bisa melihat kemaluan Didi menegang dibalik celana dalamnya. Selanjutnya, dia menyelipkan pisaunya di antara kedua susu saya dan kemudian merobek BH saya dengan pisau tersebut.
Dia sempat berkata kepada Alia, "Hmm... boleh juga temanmu ini Lia..!"
Kalian bisa bayangkan bagaimana takutnya saya saat itu. Untungnya, dia beralih kepada Rika dan Yuni, melakukan hal yang sama dengan merobek BH mereka, sehingga kedua susu mereka terbuka menggantung. Saat ini Yuni sedang berteriak menyumpahi Alia. Sementara saya lihat Rika diam saja dan nampak ketakutan, sama seperti saya.
Alia kemudian mengambil sebuah alat suntik dari saku bajunya yang telah berada di lantai dan saya dapat melihat alat suntik tersebut berisi cairan bening.
Sementara Didi asyik menciumi dan meraba-raba tubuh Rika yang telanjang dada, Alia datang menghampiri saya dan kemudian berkata lembut kepada saya, "Re, gue suntik ya..? Enak koq..!"
Walaupun saya merasa takut, tetapi mendengar suara Alia, hati terasa nyaman. Apakah saya memang menyukainya?
Alia kemudian menyuntik susu kiri saya dan saya dapat merasakan aliran cairan bening dari alat suntik tersebut memasuki jaringan pada susu kiri saya. Saya mengerang menahan rasa aneh yang muncul pada susu kiri saya tersebut. Dan kemudian Alia juga menyuntik susu kanan saya. Setelah itu, Alia memeluk saya dan mencium pipi saya. Dalam hati saya, saat itu terasa nyaman dan senang, sesaat menggantikan rasa takut saya. Alia selanjutnya juga menyuntik kedua susu milik Rika dan Yuni. Hanya saja, Alia tidak mencium mereka.
Setelah menyuntik kami, Alia membuka celana dalamnya sehingga tubuh Alia terlihat polos, telanjang bulat. Benar-benar cantik Alia saat itu. Sepasang susunya menggantung indah. Kemaluannya ditumbuhi rambut halus. Tubuhnya benar-benar proporsional. Didi juga menyusul membuka celana dalamnya, menampakkan kemaluannya yang sudah tegang. Saya takut juga melihatnya, karena baru kali itu saya melihat cowok telanjang secara langsung. Anehnya, tidak lama setelah itu saya merasakan kedua susu saya menjadi penuh, lebih berat, dan lubang susunya mengeluarkan cairan. Hal yang sama juga nampaknya dialami oleh Rika dan Yuni. Mungkin pengaruh dari obat yang disuntikkan oleh Alia.
Langganan:
Komentar (Atom)